Destinasi Tempat Wisata di Kota Banda Aceh Paling Menarik dan Berkesan

Diposting pada

Tempat Wisata di Kota Banda Aceh – Ibukota Provinsi Aceh, yakni Kota Banda Aceh adalah pusat pemerintahan serta segala kegiatan yang bersangkutan dengan ekonomi, sosial, budaya, sampai politik di Aceh. Tidak heran jika kota ini menjadi yang paling ramai dan sibuk dibanding kota di Aceh yang lain. Selain itu, faktor pariwisata di kota ini juga berkembang pesat, mulai dari wisata sejarah sampai wisata alam, disajikan dan dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Sebagai wilayah dengan kebudayaan yang kental, Aceh memiliki segenap tempat bersejarah yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari kebudayaan raja-raja, sampai kebudayaan Islam. Hal tersebut juga diimbangi dengan wisata alamnya yang memukau dan sangat direkomendasikan untuk wisatawan di Aceh. Seperti beberapa destinasi wisata berikut ini, tiap tempat memiliki keunikan dan keeksotisan sendiri-sendiri.

Tempat Wisata di Kota Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman


Apabila kamu ingin mengunjungi tempat paling bersejarah pasca tragedi tsunami yang menimpa Aceh beberapa tahun lalu, maka patutlah jika berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Seperti yang sudah semua orang tahu bahwa masjid ini adalah satu-satunya bangunan yang utuh meskipun sudah diterjang tsunami. Berkat itu, kepopuleran Masjid Raya Baiturrahman pun meningkat dan dibangun lebih megah lagi.

Kini, tempat ini selalu ramai didatangi masyarakat, baik itu untuk beribadah maupun sekadar ingin melihat bentuk bangunannya. Masjid ini sendiri sudah dibangun sejak 1612 Masehi yang lalu, dan masih kokoh hingga sekarang. Sebagai masjid raya, tentu fasilitas di dalamnya sangat lengkap, seperti toilet, mukena, tempat wudhu dan bahkan memiliki taman yang indah.

Museum Tsunami Aceh


Untuk mengenang serta memberi penghormatan terakhir bagi korban tsunami Aceh, maka dibangunlah Museum Tsunami Aceh. Tempat ini dibangun dengan arsitektur memukau, sehingga tidak akan membuat pengunjung bosan. Letaknya ada di Banda Aceh, tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda No.3, Sukaramai, Baiturrahman, Banda Aceh.

Biaya masuknya pun sangat terjangkau, hanya Rp. 10.000 dan kamu sudah bisa berkeliling untuk melihat diorama, maupun benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan tsunami Aceh. Nama-nama korban juga dipajang di sini. Dan museum ini juga dirancang sebagai lokasi evakuasi jika terjadi tsunami kembali. Untuk fasilitas sendiri, tempat ini sangat lengkap, mulai dari tempat parkir, toilet, dan lain-lain tersedia untuk kenyamanan pengunjung.

Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop


Taman Sari Gunongan menjadi bukti sejarah akan rasa cinta kasih Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, yaitu Putri Kamaliah dari Pahang, Malaysia. Untuk menghindarkan sang putri dari kerinduan terhadap kampung halaman, maka dibuatlah taman sari yang bentuk bangunannya menyerupai gunung. Di tempat ini juga ada makam dari Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah, alias Sultan Aceh ke-13. Sedangkan Pinto Khop adalah sebuah penghubung yang dulu digunakan para dayang untuk menuju lokasi pemandian. Cagar budaya yang indah ini terletak di Jalan Teuku Umar 1, Kelurahan Sukaramai, Baiturahman, Banda Aceh, Aceh. Tempatnya cukup sepi tapi cocok untuk kamu yang suka hunting foto dan mengenal sejarah lebih dalam.

Pantai Ulee Lheue


Pantai Ulee Lheue yang terletak di Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meureksa, Banda Aceh, menjadi salah satu favorit masyarakat untuk bersantai sekaligus menikmati senja. Air lautnya yang tenang memang paling asik untuk dipandangi seraya menikmati makanan dari warung-warung sepanjang deretan jalan. Berbagai kuliner laut bisa kamu coba, seperti kepiting, udang, dan lain-lain.

Selain itu, pantai ini juga menyediakan fasilitas pendukung seperti toilet maupun tempat ibadah, sehingga pengunjung tidak perlu terburu-buru pulang. Paling penting lagi, pantai ini bisa diakses semua orang tanpa sepeser pun biaya yang harus dikeluarkan, alias gratis. Jaraknya yang hanya 3km dari pusat Kota Banda Aceh, membuat moda transportasi ke Pantai Ulee Lheue sangat mudah, bisa menggunakan taksi, labi-labi dan kendaraan umum lainnya.

Pantai Alue Naga


Usai terpuruk akibat tsunami yang pernah melanda Aceh, kini Pantai Alue Naga mulai menampakkan geliatnya lagi. Perbaikan dilakukan semaksimal mungkin, dan wisatawan mulai berdatangan ke tempat ini. Pantai Alue Naga sendiri sangat unik, karena merupakan tempat pertemuan air sungai dan laut. Sungai Lamnyong yang berkelok-kelok mirip tubuh naga itu pula yang menginspirasi pemberian nama pantai ini.

Selain bermain air dan pasir, biasanya wisatawan suka memancing di atas batu pemecah ombak. Warung-warung juga berjejer rapi di sekitaran pantai, masjid juga sudah berdiri tegap dan bisa digunakan. Sayangnya untuk toilet umum, pengunjung masih harus pergi menumpang ke warung-warung atau masjid. Pantai ini juga masih gratis, kamu hanya harus membayar biaya parkir kendaraan. Lokasi pantai ini sendiri ada di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh.

Museum Negeri Aceh


Selain museum tsunami, Aceh pun memiliki museum yang berfokus pada kebudayaan Aceh yang disebut sebagai Museum Aceh. Bahkan museum ini sudah dibangun sejak pemerintahan Hindia-Belanda. Peresmiannya dilakukan oleh Jenderal H.N.A Swart, seorang gubernur sipil sekaligus militer Aceh, pada tahun 1915. Isi di dalam museum kebanyakan adalah koleksi pribadi Friedrich Wilhelm Stammeshaus, yang juga berstatus sebagai Kepala dan Kurator Museum Negeri Aceh ini.

Sebagai museum sejarah dan budaya, isi di dalam museum terdiri dari berbagai benda tradisional Aceh seperti senjata rencong, dan bahkan meriam kuno. Ada pula lonceng berusia 1400 tahun bernama Lonceng Cakra Donya. Bahkan ada pula miniatur masjid Baiturrahman. Jika ingin datang, langsung saja ke Jln. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Baiturrahman, Banda Aceh. Kamu cukup membayar Rp. 3000 untuk biaya masuk.

PLTD Apung 1


PLTD Apung ini adalah satu dari banyak monumen untuk mengenang bencana tsunami Aceh yang memilukan. Dulunya, monumen ini adalah sebuah kapal PLTD asli, lalu terseret tsunami hingga ke pemukiman, dan kini diperbaiki untuk menjadi wisata sejarah. Semua bagian kapal dibiarkan utuh, hanya dilakukan perbaikan dan pengecatan supaya nuansanya tampak lebih baik. Fasilitasnya pun disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung, seperti adanya toilet, Mushola, parkir, dan bahkan tempat sampah yang memadai. Kamu bisa mengunjungi PLTD Apung ini di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

Kapal Apung Lampulo


Bukan hanya PLTD Apung yang kini menjadi tempat wisata bersejarah, sebuah kapal nelayan pun ada yang bernasib serupa. Uniknya, kapal nelayan tersebut malah terseret dan bertengger cantik di atas rumah seorang penduduk. Kapal nelayan yang disebut sebagai kapal Lampulo ini pun kini menjadi destinasi wisata menarik yang sering dikunjungi masyarakat. Kapalnya masih utuh dan kerap menjadi objek foto wisatawan.

Kapal ini sendiri memiliki berat hingga 65 ton, dan panjangnya sekitar 25 meter. Supaya kapal tidak ambruk, maka di sekitar kapal pun dipasang penyangga. Kemudian dibangun pula fasilitas umum seperti toilet maupun tempat parkir untuk kenyamanan pengunjung. Jika kamu merasa penasaran, langsung saja datang ke Jalan Tanjung, Kampung Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh.