Tempat Wisata di Aceh Timur dengan Menjelajahi Daerah Bekas Konflik

Diposting pada

Tempat Wisata di Aceh Timur – Daerah Aceh Timur dahulu terkenal dengan kerawanan akan konflik yang dipicu oleh kelompok separatis. Namun kini, Kabupaten yang mengubah ibu kotanya dari Langsa ke Idi Rayeuk tersebut telah sepenuhnya bebas dari ancaman pemberontakan dan dapat berkembang sebagaimana daerah-daerah lain di Aceh, baik secara perekonomian maupun potensi pariwisata yang dimiliki.

Meski dapat dinilai agak lambat dalam pengembangannya, tetapi Aceh Timur menyimpan banyak objek wisata yang sayang jika sampai dilewatkan, tidak hanya berkat keindahan panorama yang ditawarkan untuk destinasi wisata alam, tetapi juga keunikan masing-masing lokasi. Berikut ini merupakan ulasan lengkap beragam tempat wisata dari Kabupaten Aceh Timur sebagai referensi.

Tempat Wisata di Aceh Timur

Air Terjun Terujak


Bila gemar menjelajah, maka Air Terjun Terujak yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Serba Jadi, ini merupakan destinasi yang tepat. Akses untuk mencapai air terjun yang dijuluki surga tersembunyi dari Aceh Timur ini memang cukup sulit. Wisatawan lebih dianjurkan menggunakan kendaraan roda dua akibat jalan penuh tanjakan dan lubang.

Setelah itu, wisatawan masih harus melanjutkan perjalanan sejauh satu kilometer dengan berjalan kaki untuk dapat mencapai pusat air terjun. Tetapi, semuanya terbayar lunas saat telah sampai di lokasi, di mana akan disambut air terjun cantik dengan pemandian alami di bawahnya. Airnya yang segar disempurnakan dengan udara sejuk dan panorama memanjakan.

Paya Bili


Di tempat wisata ini, air terjun dan waduk menjadi satu sehingga sangat memanjakan wisatawan yang senang bermain air. Debit dari keduanya tidak terlalu besar sehingga sangat aman, bahkan untuk anak-anak. Tetapi untuk dapat mencapai destinasi gratis ini, wisatawan perlu sedikit berusaha keras dengan berjalan menyusuri jalan setapak sepanjang dua kilometer.

Pantai Pusong Kuala Idi


Jika tidak ingin berjauh-jauh dari pusat kota, maka wisatawan dapat mengunjungi Pantai Pusong Kuala Idi yang pada 2004 silam menjadi salah satu titik pusat tsunami. Setelah melalui proses restorasi, Pantai Pusong Kuala Idi kini kembali menjadi destinasi wisata favorit warga lokal maupun wisatawan. Terlebih, pantai ini dapat dieksplorasi secara gratis.

Pantai Matang Ulim


Selain Pantai Pusong Kuala Idi, terdapat Pantai Matang Ulim yang berjarak tidak jauh dari tempat wisata tersebut. Hamparan laut biru dengan pasir putih dilengkapi oleh pepohonan cemara yang rindang sehingga banyak wisatawan yang sampai menggelar tikar hingga tenda untuk menginap. Wisatawan juga tidak akan ditarik retribusi apa pun saat kemari.

Pantai Kuala Parek


Berada di Kecamatan Rantau Selamat, Pantai Kuala Parek masih sangat alami. Meski tidak ada fasilitas penunjang, tetapi wisatawan pasti merasa cukup puas dengan menikmati panorama yang disajikan. Terdapat daratan kecil yang menjorok ke arah laut dan dipenuhi yang menjadi spot favorit pengunjung. Tidak ketinggalan pohon kelapa yang turut mempercantik pemandangan.

Pantai Keutapang Mameh


Khusus pecinta seafood alias olahan laut, mengunjungi Pantai Keutapang Mameh di Idi Rayeuk merupakan suatu keharusan. Dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni mulai Rp. 15.000,- untuk menu makanan di masing-masing warung, wisatawan akan terpuaskan dengan cita rasa seafood dengan bumbu-bumbu khas Aceh yang kaya rempah dan sangat lezat.

Pantai Kuala Beukah


Pantai ini berada di Kecamatan Peureulak, tepatnya di Desa Paya Lipah. Pasir pantainya memiliki warna kecokelatan yang menjadi ciri khas jika dibandingkan pasir pantai lain di Aceh yang mayoritas berwarna putih. Pepohonan cemara di sekitar semakin mempercantik panorama yang ditampilkan. Sayangnya pantai yang dapat dikunjungi gratis ini pengelolaannya kurang maksimal.

Kerajaan Islam Peureulak


Kecamatan yang sempat menjadi sarang para pemberontak, yaitu Peureulak, juga memiliki sebuah destinasi wisata bersejarah yang cukup populer dan menarik minat wisatawan cukup tinggi, yakni situs Kerajaan Islam Peureulak. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan islam kedua di bumi Serambi Mekkah setelah Kerajaan Samudera Pasai. Wisatawan dapat mengunjungi situs ini tanpa retribusi.

Di sini hanya tersisa sebuah bangunan masjid dan makam salah seorang Raja beserta dengan Sang Permaisuri. Sayangnya, situs bersejarah ini tidak terawat dengan baik sehingga bangunannya pun begitu ringkih dan semestinya harus lekas mendapatkan pemugaran. Kerajaan ini tercatat cukup makmur pada masanya, tetapi jejak kemakmuran tersebut kini lenyap tanpa jejak.

Taman Bambu Runcing


Berada di Langsa, tempat ini lebih cocok disebut sebagai monumen. Hakikat dari tugu tersebut adalah untuk mengingatkan generasi penerus pada para pahlawan yang berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mengusir penjajah walau secara logistik mengalami kekalahan teknologi senjata. Namun dengan menggunakan senjata bambu runcing sederhana, para pejuang tetap berhasil mewujudkannya.

Hutan Mangrove


Instagramable, cantik, dan menyegarkan. Ketiga deskripsi tersebut sangat tepat menggambarkan tentang Hutan Mangrove yang berada di Langsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai bekas ibu kota, Kota Langsa relatif lebih maju dan modern dibandingkan daerah-daerah lain. Untuk masuk areal hutan mangrove ini, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000,- per orang.

Mutiara Waterpark


Daerah Langsa juga memiliki Mutiara Waterpark, taman bermain air yang dikelola oleh swasta dengan tiket masuk dibanderol sebesar Rp. 20.000,- per orang. Selain terdapat kolam renang yang sangat bersih dan terawat, terdapat pula aneka wahana permainan air seperti seluncuran, juga gazebo-gazebo terpisah untuk menikmati waktu yang berkualitas bersama keluarga.

Hutan Lindung


Desa Paya Bujok Seulemak memiliki wisata hutan lindung dengan aliran sungai yang tenang. Untuk dapat masuk, wisatawan hanya diharuskan membayar tiket masuk yang dibanderol Rp. 5.000,- per pengunjung. Di sana, tidak hanya menikmati pemandangan, wisatawan juga bisa berlayar mengelilingi sungai dengan menyewa perahu kayu seharga Rp. 10.000,- per orang.

Gedung Balee Juang


Bangunan historis yang berdiri megah dengan desain arsitektur khas Eropa ini memiliki kisah yang begitu menggetarkan. Di sini merupakan saksi bisu puncak perjuangan para pahlawan kemerdekaan asal Aceh yang berkumpul dari segala penjuru dan mendeklarasikan untuk menentang penjajah hingga titik darah penghabisan. Sebab itulah gedung ini dinamai Balee Juang.

Lokasi tepatnya berada di Kampung Jawa, sebuah areal di Aceh Timur yang hampir semua beretnis Jawa atau pendatang. Guna memasuki gedung bersejarah ini, wisatawan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 10.000,- saja. Tempat ini terawat dengan baik oleh pemerintah dan sempat mengalami rekonstruksi akibat bencana Tsunami di masa lalu.

Aceh Timur, Kabupaten Sejuta Keindahan

Mempertimbangkan status darurat dan krisis yang pernah dialami di masa lalu, maka pencapaian Aceh Timur pada saat ini di berbagai sektor sangat layak untuk diapresiasi. Terutama dalam sektor pariwisata di mana tingkat terbengkalainya sebuah objek wisata sangat rendah.

Aceh Timur tidak hanya berkembang dari segi wisata alam, tetapi juga menggabungkan konsep alam dan modern pada beberapa destinasi dan terus berusaha meningkatkan potensi yang dimiliki atau minimal memperbaiki kekurangan yang ada. Sehingga, tidak berlebihan menyebut Aceh Timur sebagai surga wisata yang tersembunyi dari Aceh.