Tempat Wisata di Aceh Tenggara untuk Surga Wisata yang Multikultural

Diposting pada

Tempat Wisata di Aceh Tenggara – Kabupaten Aceh Tenggara dapat disebut sebagai daerah multikultural yang paling damai di antara daerah-daerah lain di Provinsi Aceh. Terdiri dari banyak suku, ras, dan agama, tidak pernah terdengar konflik yang dipicu oleh hal-hal berbau SARA di sana. Hal tersebut turut berpengaruh positif pada perkembangan potensi daerah, terutama untuk sektor pariwisata.

Ibu kota Aceh Tenggara adalah Kutacane. Kabupaten ini tidak jauh berbeda dengan kabupaten lain di Provinsi Aceh, yakni kaya akan destinasi wisata alam. Semula, bidang pariwisata tidak dikelola secara serius oleh pemerintah dan masyarakat, namun sekarang pandangan itu telah berubah yang membuat daerah ini kemudian menjadi surga wisata baru Aceh.

Tempat Wisata di Aceh Tenggara

Masjid Agung At-Taqwa


Mendapati masjid di Aceh merupakan hal yang mudah jika mempertimbangkan sebutan provinsi tersebut sebagai Bumi Serambi Mekkah. Salah satu masjid terpopuler dan juga merangkap sebagai objek wisata adalah Masjid Agung At-Taqwa yang berada di Kutacane atau pusat kota. Masjid berkubah emas ini terawat baik dan dapat dikunjungi wisatawan secara gratis.

Lapangan Ahmad Yani


Walaupun tidak memiliki alun-alun, tetapi Kutacane sebagai ibu kota pemerintahan memiliki Lapangan Ahmad Yani yang berfungsi sebagai taman terbuka publik. Wisatawan dapat berbaur dengan masyarakat yang biasanya memadati areal samping masjid agung tersebut pada sore hari untuk sekedar bersantai melepas penat atau berwisata kuliner tanpa perlu membayar retribusi apa pun.

Taman Nasional Gunung Leuser


Destinasi wisata yang satu ini begitu membanggakan Aceh Tenggara karena Taman Nasional Gunung Leuser saat ini menjadi cagar alam terbesar untuk kawasan Asia Tenggara. Banyak terdapat flora dan fauna langka di sini yang menjadi daya tarik lain bagi wisatawan. Pengunjung dikenakan tarif Rp. 15.000,- untuk dapat berkeliling tempat ini.

Taman Nasional Hutan Ketambe


Sedikit berbeda dengan Taman Nasional Gunung Leuser, maka Taman Nasional Hutan Ketambe fokus menjadi spot kegiatan outbond terbaik di Aceh seperti pendakian dan rafting. Selain itu, destinasi berjarak 25 kilometer dari pusat kota ini memiliki pusat penelitian Orang Utan yang dapat menambah pengetahuan wisatawan tentang satwa langka yang dilindungi tersebut.

Bukit Cinta Kutacane


Anggapan bahwa Aceh jauh dari kata romantis terpatahkan ketika wisatawan mengunjungi destinasi wisata yang berada di Kampung Mbarung ini. Berupa sebuah kafe yang dikelola swasta, lokasinya di puncak gunung sehingga pengunjung dapat menikmati hidangan, terutama Kopi Aceh, sambil menyaksikan panorama yang begitu indah. Harga menunya dibanderol mulai Rp. 5.000,- saja.

Taman Wisata Lawe Gurah


Di areal taman wisata yang cukup terpencil di tengah hutan ini, terdapat camping ground yang memiliki pemandangan alam luar biasa cantik. Sebab itu, meskipun akses lokasi agak sulit, wisatawan tetap bersemangat untuk mendatanginya. Spot favorit selain di camping ground adalah pemandian air panas alami yang berada tidak jauh dari sana.

Air Terjun Lawe Dua


Di Desa Lawe Dua, terdapat sebuah objek wisata air terjun yang juga merangkap sebagai pemandian terbuka alami dengan temperatur air yang relatif dingin, sehingga lebih cocok dikunjungi ketika sedang musim kemarau. Untuk dapat mengeksplorasi areal wisata dengan panorama cantik ini, wisatawan tidak akan dikenakan retribusi, baik tiket masuk maupun parkir.

Air Terjun Ketambe


Wisata air terjun gratis yang berada di Ketambe ini lokasinya hanya membutuhkan jarak tempuh selama 15 menit dari resort terbesar yang dibangun di kecamatan tersebut. Ketinggian dari Air Terjun Ketambe relatif rendah, serta debit airnya pun kecil, sebab itu menjadi salah satu destinasi favorit untuk didatangi wisatawan bersama keluarga.

Benteng Kuta Reh


Benteng pertahanan ini menyimpan sejarah yang begitu membanggakan, terutama bagi masyarakat Aceh sendiri, di mana menjadi saksi bisu perang hidup dan mati antara pejuang kemerdekaan Aceh melawan kolonial Belanda yang terus berupaya untuk menaklukkan seluruh daerah di Bumi Serambi Mekkah tersebut, termasuk kawasan yang kini menjadi teritori Aceh Tenggara ini.

Sebanyak 4.000 pejuang Aceh dinyatakan gugur dalam penolakan terbesar dan terberat yang pernah dialami kolonial selama menjajah Indonesia selama 350 tahun tersebut. Wisatawan dapat menyaksikan di museum yang dibangun tak jauh dari benteng akan dokumentasi serta bukti-bukti yang tersisa dari perang tersebut dengan membayar tiket sebesar Rp. 5.000,- per orang.

Festival Gayo Alas


Festival ini merupakan acara rutin yang digelar di antara empat kabupaten sekaligus di Aceh yang mayoritas penduduknya merupakan Suku Gayo dan Suku Alas. Merupakan pertunjukan seni budaya dari masing-masing kabupaten, wisatawan diharuskan membayar tiket masuk Rp. 10.000,- per pengunjung, belum termasuk tarif parkir mulai Rp. 2.000,- tergantung jenis kendaraan.

Pantai Goyang


Pantai dengan nama unik ini diberi nama demikian disebabkan oleh pohon waru yang berada di sepanjang pantai. Pepohonan tersebut berderak-derak dan mengeluarkan bunyi mirip irama musik, mirip orang-orang yang tengah berjoget. Di sini, wisatawan biasanya menikmati panorama sambil membakar ayam atau ikan. Tiket masuknya cukup murah, hanya Rp. 10.000,- saja.

Pantai Timur


Wisatawan yang datang kemari untuk pertama kali tanpa disertai oleh pemandu wisata mungkin akan kebingungan karena Pantai Timur merupakan objek wisata tanpa pantai. Kawasan yang tidak terlalu jelas asal mulanya hinggai disebut Pantai Timur sementara tidak ada laut maupun pasir putihnya ini merupakan sebuah bendungan teririgasi yang dijadikan objek wisata.

Di sini, wisatawan dapat bermain air bendungan yang jernih dan segar karena terjamin bebas polutan, secara cuma-cuma. Sayangnya, fasilitas yang ada hanya berupa toilet umum kecil tanpa adanya warung makan, padahal wisatawan kerap merasa lapar usai puas bermain air di bendungan tersebut. Lokasi tepatnya berada di Desa Lawe Kinge.

Lawe Sikap


Nama lengkap objek wisata ini adalah Pondok Arohen Pecantik Lawe Sikap yang berupa deretan pondok-pondok di hutan aren yang dibangun dengan tujuan untuk lebih mempopulerkan gula aren sebagai salah satu komoditas andalan Aceh Tenggara. Pondok-pondok ini dikelola bersama oleh warga setempat dan saat ini tengah menjadi perbincangan hangat para traveler.

Wisatawan dapat menikmati kopi atau teh yang diracik khusus menggunakan gula aren, di mana rasa manisnya lebih legit tetapi tidak membuat eneg, sambil menikmati panorama hijau di sekitar yang sangat menyegarkan. Harga secangkir minuman di sini sangat terjangkau, hanya Rp. 5.000,- saja, yang sekaligus merangkap sebagai biaya tiket masuk.

Pluralisme Yang Membantu Potensi Wisata Aceh Tenggara Meningkat Pesat

Di negara yang berpedoman terhadap kebhinekaan ini, masih banyak yang menyepelekan tentang pentingnya menjaga kedamaian dalam kemajemukan. Padahal banyak hal positif yang dapat diraih melalui hal tersebut, sebagaimana ditunjukkan oleh Kabupaten Aceh Tenggara, khususnya pada sektor pariwisatanya.

Dengan tidak mengotakkan seseorang berdasarkan suku, ras, dan agamanya, masyarakat Aceh Tenggara dapat bahu membahu dalam memajukan potensi pariwisata yang dimiliki daerah mereka, termasuk dalam pagelaran multikultur yang digelar rutin di sana.