Mengeksplorasi Tempat Wisata di Kabupaten Aceh Tamiang Daerah Perbatasan

Diposting pada

Tempat Wisata di Kabupaten Aceh Tamiang – Aceh Tamiang merupakan kabupaten hasil pemekaran dari area Kabupaten Aceh Timur dan disahkan sebagai daerah otonom pada 10 April 2002. Areal Aceh Tamiang hanya berjarak sekitar 250 meter saja dari Medan, ibu kota Sumatera Utara. Sebab itu, Aceh Tamiang berikut wisata yang dimiliki cukup terkenal di kalangan wisatawan asal Medan.

Berbicara mengenai potensi wisata Aceh Tamiang, sama halnya dengan kabupaten lain di Aceh, mayoritas merupakan destinasi wisata alam yang sayangnya kurang terkelola baik akibat minimnya campur tangan pemerintah setempat, pihak swasta, atau warga. Padahal, jika dimaksimalkan, potensi wisata Aceh Tamiang dapat menyumbang pemasukan yang besar untuk pendapatan daerah.

Destinasi Wisata Historis

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki aneka ragam jenis wisata, salah satunya adalah wisata sejarah yang erat kaitannya dengan histori masa lalu Aceh pada masa-masa penjajahan. Berikut adalah wisata-wisata sejarah yang dapat dikunjungi saat singgah di Kabupaten Aceh Tamiang :

1. Istana Benua Raja


Memiliki tampilan layaknya rumah biasa, namun nilai historis dari bangunan yang berada di Desa Benua Raja yang dahulu difungsikan sebagai istana singgah Raja Tamiang ini sangat besar. Saat ini, tanggung jawab pengelolaan dipegang ahli waris yang menjadikannya tempat wisata umum dan dapat dikunjungi dengan membayar tiket sebesar Rp. 3.000,- saja.

2. Istana Karang


Sementara itu, di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, ada istana lain yang disebut dengan Istana Karang. Di masa lalu, istana ini merupakan kediaman utama Raja Tamiang. Sayangnya, justru istana ini tidak terawat dibanding Istana Benua Raja. Wisatawan tidak perlu membayar retribusi apa pun untuk mengeksplorasi bangunan yang menguning ini.

Pariwisata Sungai Cantik Aceh Tamiang

Berbeda dengan kabupaten lain di Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Tamiang memiliki jumlah sungai yang relatif berimbang dengan pantai, sedangkan daerah lain justru hampir tidak memilikinya. Terlebih, sungai-sungai di Aceh Tamiang sangat eksotik dan pesonanya tidak kalah dengan panorama pantai. Sungai-sungai di bawah ini merupakan yang terpopuler dari Aceh Tamiang :

1. Sungai Kuala Paret


Berkat perkembangan informasi digital yang pesat, destinasi wisata yang satu ini pun dapat dikenal secara luas setelah banyak wisatawan yang membagikan potret eksotisme sungai ini di dunia maya dan kemudian berimbas langsung pada peningkatan drastis jumlah turis yang berkunjung. Sungai Kuala Paret memiliki kontur tepian sungai yang unik sekaligus cantik.

Sungai membujur melalui jalur dengan tepiannya dipenuhi oleh bebatuan cadas tinggi yang alami tetapi tampak seolah diukir secara khusus. Air sungai tersebut jernih meskipun berwarna kehijauan. Wisatawan dikenakan biaya tiket sebesar Rp. 5.000,- per orang. Sayangnya, fasilitas pendukung dan akses jalan masih kurang memadai, namun tidak membuat minat wisatawan berkurang.

2. Sungai Gunung Pandan


Sungai ini sangat unik karena berada di kaki Gunung Pandan yang berlokasi di Desa Tenggulun. Meski hanya dikelola oleh paguyupan warga tanpa campur tangan pemerintah, tetapi destinasi wisata alam yang dapat dikunjungi dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- ini memiliki fasilitas yang sangat memadai sebagai wisata alam semi modern.

Tepian sungai diberi pagar sesuai kontur sungai hingga terbentuk pemandian alami yang menyerupai kolam renang raksasa dengan air berwarna kehijauan. Terdapat banyak warung-warung makanan, arena bermain anak, toilet umum, serta tempat ibadah di sekitar. Untuk daerah pegunungannya sendiri acap kali dijadikan lokasi perkemahan anak sekolah atau kelompok pecinta alam.

Menikmati Tantangan Di Berbagai Gua Aceh Tamiang

Jika kedua macam wisata di atas terasa kurang menantang, maka Aceh Tamiang masih memiliki tempat wisata berupa gua-gua yang belum terekplorasi dengan baik sehingga membutuhkan usaha yang cukup keras untuk dapat dicapai, antara lain :

1. Gua Walet


Sesuai namanya, gua yang satu ini memang merupakan sarang alami burung walet yang terbentuk tanpa campur tangan manusia sebagaimana halnya di daerah lain di mana burung walet sengaja dibudidayakan. Terdapat beberapa spesies walet berbeda di sana. Wisatawan wajib menjaga ketenangan agar kawanan walet tidak merasa terganggu oleh kehadiran mereka.

2. Gua Pintu Kuari


Situs berupa gua ini menyimpan banyak bukti kehidupan era pra sejarah dari Aceh, khususnya wilayah Tamiang. Banyak terdapat ornamen yang menegaskan adanya kehidupan tersebut dan tidak tergerus oleh zaman sehingga dapat tetap dinikmati hingga sekarang. Sayangnya, akses ke gua ini agak sulit karena jauh dari pusat kabupaten dan tidak terjaga.

3. Bukit Kerang


Bagi yang ingin melihat bukti lain kehidupan zaman pra sejarah di Aceh, maka Bukit Kerang yang berlokasi di Desa Jabu Labu, Kecamatan Bendahara, merupakan destinasi yang tepat. Di sana, tersusun rapi fosil-fosil binatang dan kerang kuno yang tidak hanya anti mainstream, tetapi juga instagramable untuk diabadikan dan dapat diakses gratis.

4. Pantai Kuala Ketapang


Masih dari Kecamatan Bendahara yang tidak hanya memiliki wisata perbukitan, tetapi juga pantai yang berada di Kampung Masjid Sungai Iyu, yang diberi nama Pantai Kuala Ketapang. Memiliki eksotisme yang tidak kalah dari Pantai Lampu’uk di Aceh Besar, sayang sekali pantai yang dapat dikunjungi gratis ini kurang dieksplorasi sehingga fasilitasnya minim.

5. Pemandian Air Panas Kaloy


Air hangat yang mengalir ke seluruh penjuru areal pemandian alam terbuka ini berasal dari belerang yang untungnya tidak berbau terlalu menyengat. Berada di Desa Kaloy, selain dapat merilekskan tubuh dan pikiran dengan berendam, pengunjung bisa menikmati pemandangan rimbunnya pepohonan hijau di sekitar, cukup dengan membayar Rp. 5.000,- saja per orang.

6. Air Terjun Kembar


Hanya di Kampung Tenggulun dapat menikmati panorama dua buah air terjun yang serupa dan berdampingan. Selain keunikan dari air terjun kembar tersebut, wisatawan juga bisa bermain air sepuas hati karena debit airnya kecil sehingga aman, bahkan untuk anak-anak. Wisatawan dapat puas bermain di sini dengan membayar Rp. 5.000,- tiap orang.

7. Jembatan Gantung Alur Tani


Mereka yang tinggal di perkotaan mungkin akan merasa terpacu adrenalin saat mencoba melewati jembatan gantung yang berada di Kampung Alur Tani. Terdapat jembatan penghubung sebagai satu-satunya akses memasuki kampung tersebut dengan berjalan kaki. Meski pondasinya kokoh, tetapi sungai dengan arus cukup deras di bawahnya cukup membuat bulu kuduk berdiri.

8. Kebun Sawit Aceh Tamiang


Termasuk dalam salah satu kabupaten penghasil komoditas sawit tertinggi di Aceh, maka Perkebunan Kelapa Sawit Aceh Tamiang pun tidak ketinggalan untuk menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Wisatawan dapat menyaksikan sekaligus mempelajari lebih dalam tentang komoditi ekspor yang menghasilkan devisa cukup tinggi untuk negara tersebut.

Bila ingin berjalan-jalan di perkebunan sawit ini, masing-masing wisatawan harus membayar retribusi berupa tiket masuk sebesar Rp. 3.000,- per orang dan mulai Rp. 2.000,- untuk parkir kendaraan bergantung jenis transportasi yang digunakan. Terdapat pula penginapan, toilet umum, dan tempat ibadah sebagai fasilitas penunjang.